Senin, 19 Oktober 2015

Pelangi Hati

Maa Syaa Allah. Alhamdulillah. Kau hadirkan banyak cinta malam ini.
Hikmah indah dibalik air mata,

terimakasih ibuk, bapak. maaf membuatmu khawatir.
Bagaimana mungkin tak khawatir, anaknya yang ijin berangkat kuliah pulang sambil menangis.

Terimakasih dek Firman,
yang ngeliat mbaknya nangis tapi malah ditertawakan. tapi tertawa lucunya justru mampu membuat tersenyum.

Terimakasih kamu, yang menjadi teman diskusi malam ini.

Terimakasih mbak Sjam, atas nasehatnya. maaf lagi-lagi merepotkan.

Terimakasih Allaah, atas lantaiMu yang selalu ada sebagai tempat bersujud.
Sungguh malu rasanya, menangis karena persoalan remeh begini. padahal jarang manangisi dosa.
Astaghfirullaah :(

Malam ini muncul pelangi di kamar saya, pelangi yang muncul lantaran hujan air mata.
terimakasih menghadirkan mereka yang peduli Yaa Rabb..

"Allaahu Akbar, ini cuma kerikil kecil nduk. Kalo jatuh ya luka sedikit. Kasih betadine juga sembuh. Senyumilah !!!"

Sjam Pujiani Says, "Jika sudah terbiasa melewati kerikil kecil. maka harus terbiasa melewati batu besar sekalipun. Kudu sabar, yakinlah, syukurilah dan patuhlah.. !!"


Sejenak bermuhasabah 
dalam sudut kamar
22.47

Selasa, 15 September 2015

Celoteh Malam

Bismillahirrahmanirrahim..

Lama tak menyapa, terlalu lama sepertinya hingga lupa sudah sejauh mana menatanya.
Malam ini muncul sebuah pertanyaan kecil dihati, sudah lebih baikkah?

Sebulan ini banyak perenungan, banyak berubah kamu nduk. Menuju baikkah perubahan itu? Jangan berhenti berubah. Karena waktu tak mengizinkanmu berhenti berproses menuju baik.

Dan cinta yang hadir padaku selama ini, biarlah itu hadir sebagiamana takdir yang harus berjalan dan dijalani. Dijadikan-Nya hatiku jatuh pada beberapa orang . sekalipun hatiku berduka dan penuh luka. Biar itu menjadi tangga menujuNya.

Malu rasanya jika teringat banyak airmata yang jatuh karena makhlukNya, sedang sedikit yang tumpah untuk dosa-dosa. Astagfirullah, Ampun Ya Rabb..

Selasa, 16 Juni 2015

Terimaksih, 22th..



Assalammualaikum. Lama tak menyapa..
Sebelumnya terimakasih untuk banyak kejutan indah pada ulangtahun kemarin..
Terimakasih telah menghadirkan mereka yang peduli Yaa Rabb..

Tak terasa sudah 22 tahun, banyak perenungan, banyak pelajaran, banyak bersyukur rasanya..
Sungguh aku kehilangan satu orang tapi Allah ganti dengan puluhan orang yang jauh lebih baik..

Rabu, 27 Mei 2015

ketika Kau ketuk pintuku

Alhamdulillah, banyak dibuat tersenyum malam ini..
Terimakasih telah memelukku lewat perantara mereka Ya Allah..

Seperti kata Tere Liye :
Apalah arti kehilangan,
Ketika kami menemukan banyak saat kehilangan,
Dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Benar, apa arti kehilangan dia. Jika Allah kembalikan banyak hal..
Dulu saat menemukannya, aku banyak kehilangan mereka. Banyak kehilangan sahabat, teman, saudara.
Kini saat kehilangannya, Allah kembalikan mereka yang peduli, lebih banyak malah dibanding saat kehilangan dulu.

Allah sungguh malam ini indah, Terharu.
Biar tak kulepas sujudku malam ini, mensyukuri nikmatMu..

Allahu Akbar.. Allahu Akbar..
Berdiri aku dalam hamparan sajadah, ruku’, sujud..
Syahdu bercengkrama denganmu, menikmati malam..
Kubisikkan pada langit, sampaikan pada Tuhanku, “Terimakasih”.

Surabaya, 23 Mei 2015
22.51

Rizq

Senin, 18 Mei 2015

Syukurku atas nikmatMu

Syukurku atas nikmatMu Yaa Rabb, takkan cukup walau aku bersujud seribu tahun.
NikmatMu yang mana yang akan aku dustakan? ketika KasihMu begitu nyata..

Jikalah apa yang kualami kemarin adalah caraMu mendekatkanku padaMu, maka biarlah aku ridho atas ketetapan itu. PelukanMu begitu nyaman Ya Rabb..

Syukurku atas malam itu, atas pelukan yang kau berikan lewat perantara mereka..


Kali ini aku berlari sekali lagi pada mereka, laksana rumah aku pulang. saat hati sungguh sudah amat lelah..

Syukurku atas nikmatMu Ya Rabb, atas segala kemudahan dan keindahan yang Kau berikan. Atas hujan cinta pagi itu di Alun-Alun Sidoarjo. Atas nikmatMu yang mengijinkanku menepati janjiku.

Kamis, 07 Mei 2015

Sedikit mengajar, banyak belajar

Sedikit mengajar, banyak belajar. Rasanya kalimat itulah yang paling pas menggambarkan apa-apa yang kulalui di Traffic Light Ambengan.

Berawal dari “pelarian” yang menghantarkanku jatuh cinta pada semangat anak-anak luar biasa itu. Jatuh cinta pada sudut kota ini.

Sedikit mengajar, bahkan belum layak disebut mengajar rasanya.
Teringat obrolan dengan salah seorang pengajar waktu itu, “kita itu nggak lebih pinter dari mereka, kita ini ya cuma orang-orang yang kebetulan lahir lebih dulu dari mereka, tahu lebih dulu, jadi bisa nge-share ilmu ke mereka”.